Sepanjang siang sampai sore di hari Minggu pada awal November itu, aku ga akan pernah bisa lupa apa yang kualami selama beberapa jam itu. Saat itu kehamilanku memasuki usia 34 minggu. Baru saja masuk 8 bulan, yang kata orang biasa disebut hamil muda. Klo 7 bulan justru hamil tua katanya. Aneh ya, kok kebalik balik gitu, hehe.
Aku merasa tubuhku baik-baik saja saat itu. Memang sempat terasa sangat lelah pada sabtu malam, setelah seharian keliling jakarta sm suamiku. Tapi saat bangun di minggu paginya, aku berasa seger seger aja. Bahkan sempat melakukan aktivitas yg cukup menguras tenaga di pagi itu =p. Sekitar pukul 11 siang, adik bungsu suamiku mengatakan bahwa ia ingin ke Sea World. Kebetulan saat itu bapak dan ibu mertuaku sedang pergi ke Jawa Tengah. Jadi aku dan suamiku yang akhirnya menemani adik bungsunya pergi ke Sea World. Awalnya kami ingin pergi sebelum dzuhur. Tapi entah mengapa ada saja hal yang menghambat sehingga akhirnya kami baru bisa berangkat pukul setengah satu setelah sholat dzuhur.
Baru saja kami keluar ke jalan raya, tiba-tiba aku merasakan ada cairan yang keluar seperti buang air kecil yang tak tertahan. Lama kelamaan semakin banyak dan tidak bisa ditahan, dan aku merasakan perutku sedkit melilit, bukan mules-mules. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah mertuaku sebentar untuk aku berganti pakaian, karena pakaianku basah setelah banyaknya "pipis tak tertahan" itu. Saat aku di kamar mandi, aku agak terkejut, karena aku melihat ada bercak darah di pakaian dalamku. Wah perasaanku mulai ga karuan. Aku ingat catatan penting yang pernah kubaca di majalah ibu hamil, jika sudah terlihat ada bercak darah sebaiknya langsung saja menuju rumah sakit. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera mengajak suamiku ke rumah sakit, dan kami batal ke Sea World hari itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang Alhamdulillah tidak sampai setengah jam, aku masih bingung dengan yang aku alami. Aku merasa sedikit cemas, tapi tetap berusaha merasa tidak terjadi apa-apa. Justru suamiku yang terlihat lebih bingung, dan dia sempat berpikir apa aku akan melahirkan sekarang.
Sesampainya di rumah sakit ibu dan anak pada sekitar pukul 1 siang, aku langsung masuk kamar bersalin. Padahal awalnya aku mau ke UGD dulu. Tapi kenapa aku langsung disuruh masuk kamar bersalin. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata cairan yang sedari tadi keluar tidak tertahan menandakan ketubanku sudah pecah, dan aku dinyatakan sudah pembukaan dua. Waduh, perasaanku semakin ga karuan. Aku ga menyangka akan secepat ini. Belum ada persiapan apapun dan aku merasa ini cuma mimpi. Apalagi saat itu suamiku ga ikut masuk ke dalam, dan baru setengah jam kemudian dia masuk menemaniku. Selama setengah jam menunggu suamiku mengurus administrasi, aku cuma bisa termenung menatap langit-langit kamar bersalin yang terasa mulai mendingin, seakan aku berada di ruang sempit sendirian. Aku mencoba berdoa sebisaku, dan berharap semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Anakku akan terlahir prematur. Dan aku merasa belum punya kemampuan apapun untuk merawatnya sekarang. Di usia kehamilanku yang belum sampai 9 bulan. Aku khawatir dengan anakku, aku takut ada bagian tubuhnya yang belum sempurna karena terlahir prematur. Aku juga khawatir pada diriku, aku takut akibat persalinan yang prematur ini membuat aku mengalami hal yang membahayakan nyawaku.
Alhamdulillah akhirnya suamiku datang, dan dia sedikit tertawa saat menyampaikan aku sudah pembukaan dua dan harus melahirkan anak kami saat itu. Suamiku yang sebenarnya juga merasa cemas memiliki pengendalian diri yang sangat bagus saat itu. Dia menyikapi situasi saat itu dengan berusaha terlihat santai dan berusaha mengajakku tertawa agar aku merasa lebih tenang. Perannya sangat besar sekali pada jam-jam menjelang aku bertemu anakku. Dan untuk kesekian kalinya aku bersyukur memiliki Agungku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar